Yogyakarta (Antara Jogja) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta meminta masyarakat untuk mewaspadai meningkatnya potensi angin kencang dan perubahan cuaca secara mendadak selama musim pancaroba.

"Peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau biasanya ditandai perubahan cuaca mendadak dari semula panas menjadi hujan hingga munculnya angin kencang seperti yang terjadi beberapa hari lalu," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Tony Agus Wijaya di Yogyakarta, Senin.

Kecepatan angin saat peralihan musim, lanjut dia, tidak akan sampai menimbulkan kerusakan, tetapi cukup kencang untuk merontokkan daun pohon atau mematahkan ranting pohon berukuran kecil, bahkan merobohkan baliho terbuat dari bambu yang tidak terpasang kuat.

Kecepatan angin di darat saat musim kemarau bisa mencapai 40--50 kilometer per jam.

"Perlu ada peningkatan kewaspadaan dari masyarakat, misalnya, memasang atribut partai dengan lebih erat sehingga tidak mudah roboh dan menimbulkan kerugian untuk orang lain," katanya.

Peningkatan kecepatan angin di darat tersebut dipicu oleh munculnya badai tropis Gillian di Samudra Hindia. Namun, sudah mengarah keluar Indonesia.

Selain perubahan cuaca dan peningkatan kecepatan angin, suhu udara di DIY pada akhir Maret juga mengalami kenaikan sehingga suhu akan lebih panas saat malam dan siang hari.

Suhu udara maksimal saat siang hari bisa mencapai 34 derajat Celsius, sedangkan suhu udara minimal pada pagi hari berkisar antara 23 derajat Celsius. Suhu minimal tersebut lebih tinggi daripada rata-rata suhu minimal pada bulan lain, yaitu 20 derajat Celsius.

Peningkatan suhu udara tersebut disebabkan posisi matahari pada bulan Maret adalah tegak lurus di Yogyakarta. Posisi tegak lurus tersebut juga terjadi pada bulan Oktober sehingga pada bulan tersebut juga akan ada peningkatan suhu udara.

"Suhu udara yang cukup panas tersebut juga mudah menyebabkan penguapan yang membentuk awan cumulonimbus. Awan gelap ini sewaktu-waktu bisa turun menjadi hujan," katanya.

Mengenai banyaknya petir yang terjadi di wilayah Yogyakarta pada hari Minggu (23/3) malam, Tony menyatakan bahwa kejadian alam tersebut wajar saat musim pancaroba.

"Petir terjadi karena ada pertemuan ion negatif dan positif yang dibawa awan. Banyaknya awan yang terbentuk pada hari itu turut memengaruhi munculnya petir," katanya.

Atas kejadian tersebut, lanjut dia, masyarakat tidak perlu khawatir apalagi terhadap berbagai isu yang dilontarkan pihak tidak berkompeten.

(E013)

Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar